RSS

Kisah Cats Steven


Ia Tinggalkan Nyanyian Mendapat Hidayah

 

Dahulu ia seorang pecinta nyanyian dan segala hal yang biasa menyertainya minum minuman keras, disko, musik, dan kemaksiatan, serta dosa lainnya. Ia adalah Cat Stevens yang kemudian berganti nama menjadi Yusuf Islam. Cat Stevens adalah seorang selebriti Inggris yang amat terkenal di kolong langit ini. Ia bertutur sendiri tentang dirinya. Dan alangkah indah sesuatu yang murni keluar dari jiwa yang jujur.

“Aku dilahirkan di London, jantung dunia Barat. Aku dilahirkan di era televisi dan angkasa luar. Aku dilahirkan di era teknologi mencapai puncaknya di Negara yang terkenal dengan peradabannya, Negara Inggris. Aku tumbuh dalam masyarakat tersebut dan aku belajar di Sekolah Katolik yang mengajarkanku tentang agama Nasrani sebagai jalan hidup dan kepercayaan. Dari sini pula aku mengetahui apa yang harus aku ketahui tentang Allah, Al-Masih’alaihissalam dan takdir, yang baik ataupun yang buruk.

Kehidupan di sekelilingku adalah kehidupan materi. Mereka mengajarkan bahwa kekayaan adalah harta benda yang sesungguhnya dan kefakiran adalah ketiadaan harta benda yang hakiki. Oleh karena itu, aku harus memilih dan meniti jalan kekayaan. Supaya aku bisa hidup bahagia. Supaya aku mendapatkan kenikmatan hidup. Lalu aku mulai melihat kepada sarana untuk meraih kesuksesan. Dan cara yang paling mudah menurutku adalah membeli gitar, mengarang lagu, dan menyanyikannya sendiri. Inilah yang benar-benar aku lakukan dengan membawa nama Cat Stevens. Dan tidak berapa lama, yakni ketika aku berusia 18 tahun aku telah menyelesaikan rekaman dalam delapan kaset. Setelah itu banyak tawaran. Dan aku pun bisa mengumpulkan uang yang banyak. Disamping itu pamorku pun mencapai puncak.

Ketika aku berada di puncak ketenaran, aku melihat ke bawah. Aku takut jatuh! Aku dihantui kegelisahan. Akhirnya, aku mulai minum minuman keras satu botol setiap hari. Supaya memotivasi keberanianku untuk menyanyi. Aku merasa, orang-orang di sekelilingku berpura-pura puas. Padahal dari wajah mereka, tak seorang pun tampak puas, kepuasan yang sesungguhnya! Semuanya harus munafiq, bahkan dalam hidup! Aku merasa, ini adalah sesat. Aku lalu jatuh sakit dan divonis terkena penyakit paru-paru. Ketika di rumah sakit, kondisiku lebih baik karena aku mulai berpikir.

Aku memiliki buku-buku tentang aqidah dan masalah ketimuran. Aku mencari tentang Islam dan hakikatnya. Dan serta ada perasaan, aku harus menuju pada titik tujuan tertentu, tetapi aku tidak tahu keberadaan dan pengertiannya. Karena ketidakpuasanku, aku mulai berpikir dan mencari kebahagiaan yang tidak kudapatkan dalam kekayaan, ketenaran, dan puncak karir. Maka aku mulai mengetuk pintu Budha dan falsafah Cina. Aku pun mempelajarinya. Aku mengira kebahagiaan adalah dengan mencari berita apa yang terjadi di hari esok sehingga kita bisa menghindari keburukannya. Aku berubah menjadi penganut paham Qadariyah. Aku percaya dengan bintang-bintang, mencari berita apa yang akan terjadi. Tetapi semua itu ternyata keliru.

Aku lalu pindah kepada ajaran komunis. Aku mengira bahwa kebajikan adalah dengan membagi kekayaan alam ini kepada setiap manusia. Tetapi aku merasa bahwa ajaran komunis itu tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sebab keadilan adalah engkau mendapatkan sesuai apa yang telah engkau usahakan, dan ia tidak lari ke kantong orang lain.

Lalu aku berpaling pada obat-obatan penenang. Agar aku memutuskan mata rantai berbagai pikiran dan kebimbangan yang menyesakkan. Setelah itu aku mengetahui bahwa tidak ada akidah yang bisa memberikan jawaban kepadaku tentang hakikat yang sedang aku cari. Aku putus asa. Dan ketika itu, aku belum mengetahui Islam sama sekali. Maka aku tetap pada pemahamanku yang pertama, yang aku pelajari di gereja.

Pada tahun 1975 terjadi suatu mukjizat. Yakni ketika saudara kandungku tertua memberiku hadiah satu mushaf Al Quran. Mushaf itu masih tetap bersamaku sampai aku mengunjungi Al Quds di Palestina. Setelah kunjungan tersebut, aku mulai meempelajari kitab yang dihadiahkan oleh saudaraku itu. Suatu kitab yang aku tidak mengetahui apa isi di dalamnya, juga tak kuketahui apa yang dibicarakannya. Lalu aku mencari terjemahan Al Quranul Karim setelah aku mengunjungi Al Quds.

Pada pertama kalinya, melalui Al Quran itu, aku berpikir tentang Islam. Sebab Islam menurut pandangan orang Barat adalah agama yang fanatik dan sektarian. Dan umat Islam itu adalah sama saja. Mereka adalah orang-orang asing, baik bangsa Arab maupun Turki. Kedua orang tua saya adalah berdarah Yunani. Dan orang Yunani begitu bencinya kepada Turki muslim. Oleh karena itu, seyogyanya aku membenci Al Quran. Tetapi aku memandang, aku harus mempelajarinya. Tidak mengapa aku mengetahui isinya.

Sejak pertama, aku merasa bahwa Al Quran dimulai dangan Bismillah (dengan nama Allah). Bukan nama selain Allah. Dan ungkapan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) begitu sangat berpengaruh dalam jiwaku. Lalu Surah Al Fatihah itu berlanjut dengan Fatihatul Kitab (Pembukaan Al Quran), Alhamdulillahirabbil’alamin (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam). Segala puji milik Allah Sang pencipta sekalian alam, dan Tuhan segenap makhluk.

Aku berusaha untuk mencari kesalahan di dalam Al Quran, tetapi aku tidak menemukannya. Semua isi Al Quran adalah sesuai dengan pemikiran ke-Esa-an Allah yang murni. Dari sini, aku mulai mengenal tentang apa itu Islam. Al Quran telah menjawab semua hal yang kupertanyakan. Dengan demikian, aku merasa bahagia. Kebahagiaan mendapatkan kebenaran.

Lalu aku berpikir bagaimana aku menjadi muslim yang sesungguhnya. Maka aku pergi ke masjid London dan aku mengumumkan keislamanku. Aku mengatakan,’Asyhadu anlaa ilaahaillallaah waasyhadu anna muhammadar rasulullaah’ (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi Muhammad itu utusan Allah). Ketika itu, aku yakin bahwa Islam yang kupeluk adalah risalah yang berat, tidak suatu pekerjaan yang selesai dengan sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat.”

Itulah kisah  seorang penyanyi Inggris terkenal, Cats Stevens (Yusuf Islam) yang menolak popularitas dan uang karena ia menemukan apa yang ia cari sejak lama, yakni kebenaran dan petunjuk, sumber kebahagiaan abadi, di dunia ataupun di akhirat. Oleh karena itu, Allah swt. menggantikannya dengan iman yang tidak ada sesuatupun yang menandingi nilainya.

Iklan
 

One response to “Kisah Cats Steven

  1. Digitale Optionen

    8 Oktober 2013 at 04:35

    Heya i’m for the first time here. I found this board and I find It really useful & it helped me out much.
    I hope to give something back and help others like you aided me.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: